Selasa, 23 Oktober 2012

KONSEP LINK AND MATCH ANTARA DUNIA PENDIDIKAN DAN DUNIA TENAGA KERJA DENGAN PENDEKATAN MARKET LABOUR BASED



KONSEP LINK AND MATCH ANTARA DUNIA PENDIDIKAN DAN DUNIA TENAGA KERJA DENGAN PENDEKATAN MARKET LABOUR BASED

Disusun Untuk Mengikuti LKTMI FEB  UNAIR 2011
Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Airlangga



 








Disusun oleh:
                        Binti Inazatuz Zahra               NIM : 041012202                   2010
                                               
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS
UNIVERSITAS AIRLANGGA
SURABAYA
2011



BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Masalah ketenagakerjaan di Indonesia kembali memunculkan satu problem yang signifikan, yaitu besarnya angka pengangguran. Pengangguran disebabkan antara lain karena jumlah lapangan kerja yang tersedia lebih kecil dari jumlah pencari kerja. Juga kompetensi pencari kerja tidak sesuai dengan pasar kerja, terjadinya pemutusan hubungan kerja serta kurang efektifnya informasi pasar kerja bagi para pencari kerja. Menurut data BPS angka pengangguran pada tahun 2002, sebesar 9,13 juta penganggur terbuka, sekitar 450 ribu diantaranya adalah yang berpendidikan tinggi. Bila dilihat dari usia penganggur sebagian besar (5.78 juta) adalah pada usia muda (15-24 tahun).
Pengangguran terdidik adalah seseorang yang telah lulus dari perguruan tinggi negeri atau swasta dan ingin mendapat pekerjaan tetapi belum dapat memperolehnya. Pada tahun 2008 ini, sebanyak 4,5 juta dari 9,4 juta orang pengangguran berasal dari lulusan SMA, SMK, program Diploma, dan Universitas. Artinya, separuh dari total angka pengangguran adalah pengangguran terdidik. Mereka ini sebetulnya memiliki latar belakang pendidikan yang cukup, namun tidak terserap oleh pasar kerja. Jumlah pengangguran terdidik meningkat dari tahun ke tahun. Proporsi penganggur terdidik dari total angka pengangguran pada tahun 1994 sebesar 17 persen, pada tahun 2004 menjadi 26 persen, dan kini tahun 2008 menjadi 50,3 persen.
Pengangguran terdidik sangat berkaitan dengan masalah kependidikan,  antara lain masalah mutu pendidikan, kesiapan tenaga pendidik, fasilitas, pemilihan jenis pekerjaan yang diminati, dan kurang sesuainya kualifikasi angkatan kerja terdidik dengan kebutuhan penyedia lapangan pekerjaan. Tingginya proporsi lowongan kerja untuk sarjana dan sarjana muda yang belum terisi menunjukkan adanya kesenjangan antara kualitas penawaran tenaga kerja (dunia perguruan tinggi) dengan kualitas permintaan tenaga kerja (dunia usaha).
Perguruan Tinggi harus senantiasa meningkatkan kualitas mata kuliah yang diajarkan kepada mahasiswa maupun fasilitas untuk kelancaran belajar atau praktik . Pengangguran terdidik harus dikurangi dari dua sisi,yaitu pendidikan dan ketenagakerjaan. Dari sisi pendidikan, sudah jelas bahwa dunia pendidikan harus dapat menghasilkan output lulusan yang siap diserap oleh pasar kerja serta memberikan bekal Enterpreneur kepada para mahasiswa, supaya tidak hanya menggantungkan dari lowongan kerja yang ada, tetapi juga  mampu memiliki memiliki jiwa wirausaha dan menciptakan lapangan kerja untuk orang lain dalam jangka panjangnya. Artinya, pendidikan yang berkualitas yang berorientasi pada pasar kerja menjadi mutlak.
Berdasarkan penjelasan di atas penulis menawarkan alternatif pemecahan masalah dalam hal menanggulangi masalah pengangguran terdidik denga cara Perguruan Tinggi meningkatkan kerjasama dengan perusahaan – perusahaan dengan berbagai program diantaranya  Konsep mata kuliah yang  tertuang dalam kerangka yang lebih operasional di mana dosen pengajar langsung praktisi bisnis  dari perusahaan – perusahaan, yang memberikan gambaran secara rill tentang dunia perusahaan dan kebutuhan pegawai untuk perusahaan, selain itu di adakan bisnis visit ke perusahaan – perusahaan dan magang kerja secara langsung. Serta kerjsama dengan para praktisi Enterpreneur yang sudah mapan, untuk memberikan materi di kelas serta memberikan trik – trik dalam bersaing di dunia usaha yang sehat dan tidak melanggar hukum.
 Berbagai proyek kerjasama penelitian antara perusahaan dengan perguruan tinggi yang melibatkan mahasiswa, dosen, peneliti dan praktisi. Dengan demikian setiap lulusan memiliki skill  yang di butuhkan dalam pasar kerja. Kurikulum yang di ajarkan juga akan berubah menyesuaikan pasar tenaga kerja
Mewujudkan pendidikan yang berbasis pada pasar kerja (labour market based). Prosesnya selama ini adalah product oriented, yaitu dunia pendidikan lebih fokus pada upaya menghasilkan lulusan yang berkualitas. Namun kualitas dan karakteristik seperti apa yang dibutuhkan oleh pasar kerja kurang di perhatikan. Konsep link and match antara dunia pendidikan dan dunia ketenagakerjaan perlu diredefinisi dengan memasukkan pendekatan market labour based .  Oleh karena itu, labour market oriented, saat ini lebih tepat untuk menjawab kebutuhan pasar kerja akan tenaga kerja berkualitas, dan pada akhirnya mengurangi pengangguran terdidik.
1.2              Rumusan Masalah
1.2.1   Apa  penyebab ketimpangan antara peningkatan pendidikan Indonesia dengan  peningkatan realita pengangguran terdidik?
1.2.2   Bagaimana seharusnya bentuk  program Perguruan Tinggi  sekarang untuk mencetak mahasiswa yang berketrampilan?
1.2.3   Bagaimanakah program yang diterapkan di perguruan tinggi  sehingga mampu menghadapi persaingan dunia kerja?
1.3  Tujuan Penulisan
1.3.1    Untuk mengetahui penyebab ketimpangan antara peningkatan pendidikan Indonesia dengan  peningkatan realita pengangguran terdidik.
1.3.2    Untuk menjelaskan  bentuk  program Perguruan Tinggi  sekarang dalam mencetak mahasiswa yang berketrampilan .
1.3.3    Untuk mengetahui program yang diterapkan di perguruan tinggi  sehingga mampu menghadapi persaingan dunia kerja.
1.4  Manfaat Penulisan.
1.4.1    Bagi  penulis
Mampu meningkatkan kemampuan penulis dalam membuat karya tulis serta menambah wawasan penulis  tentang bentuk kerjasama Perguruan Tinggi dengan Perusahaan.
1.4.2    Bagi  pembaca
Bisa menambah wawasan dan sebagai bahan pertimbangan dalam menelaah  pengangguran terdidik di Indonesia..
1.4.3    Bagi Perguruan Tinggi dan Perusahaan
Dapat dijadikan  tambahan informasi dan pertimbangan dalam mengambil kebijakan dan tindakan terkait  penetapan kurikulum dan mata kuliah yang di ajarkan serta program – program yang dibutuhkan mahasiswa sehingga mampu bersaing di pasar kerja. Bagi perusahaan bisa memperoleh pegawai yang benar benar terampil sesuai dengan bidang nya dan terlatih.













BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pengangguran Terdidik
Pengangguran Terdidik adalah mereka yang mempunyai kualifikasi lulusan pendidikan yang cukup (Perguruan Tinggi)  namun masih belum memiliki pekerjaan. Pengangguran terdidik sangat berkaitan dengan masalah kependidikan berkisar pada masalah mutu pendidikan, kesiapan tenaga pendidik, fasilitas, dan kurang sesuainya kualifikasi angkatan kerja terdidik dengan kebutuhan penyedia lapangan pekerjaan.
Berdasarkan penggolongan ini pengangguran dapat digolongkan sebagai berikut:
1.       Pengangguran Normal atau Friksional  (Frictional Unemployment)
Pengangguran Normal atau Friksional adalah pengangguran yang muncul akibat adanya ketidaksesuaian antara pemberi kerja dan pencari kerja
  2.       Pengangguran Siklikal
Pengangguran Siklikal adalah pengangguran yang menganggur akibat imbas naik turun siklus ekonomi sehingga permintaan tenaga kerja lebih rendah daripada penawaran kerja.
 3.       Pengangguran Struktural (Struktural Unemployment)
Pengangguran stuktural adalah keadaan dimana penganggur yang sedang mencari lapangan pekerjaan tidak mampu  memenuhi persyaratan yang ditentukan pembuka lapangan kerja
 4.       Pengangguran Teknologi
Pengangguran Teknologi adalah pengangguran yang terjadi akibat perubahan atau penggantian tenaga manusia menjadi tenaga mesin-mesin..
Berdasarkan kepada cirinya pengangguran digolongkan sebagai berikut:
1.      Pengangguran Terbuka (Open Unemployment)
Pengangguran terbuka adalah tenaga kerja yang sungguh-sungguh tidak mempunyai pekerjaan. Pengangguran jenis ini cukup banyak karena memang belum mendapat pekerjaan padahal telah berusaha secara maksimal.
2.        Pengangguran Terselubung atau Tersembunyi (Disguissed Unemployment)
Pengangguran terselubung adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu, misalnya pekerjaan yang tidak sesuai dengan bakat dan kemampuan yang dimiliki.
3.      Pengangguran Musiman (Seasonal Unemployment)
Pengangguran musiman adalah keadaan menganggur karena adanya fluktuasi kegiatan ekonomi jangka pendek yang meyebabkan seseorang harus menganggur
4.      Setengah Menganggur (Under Unemployment)
Pengangguran setengah menganggur adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena tidak ada lapangan pekerjaan, biasanya tenaga kerja setengah menganggur ini merupakan tenaga kerja yang bekerja kurang dari 35 jam selama seminggu.




2.2 Data Pengangguran Terdidik
Gambar 2.1 Data Pengangguran Terdidik
Dari data di atas terlihat bahwa pengangguran terdidik di Indonesia masih tinggi, baik itu dari lulusan sarjana atau diploma.  Tiap tahun data pengangguran terdidik di Indonesia selalu meningkat. 
2.3 Faktor Penyebab Pengangguran Terdidik
1.      Ketidakcocokkan antara karakteristik lulusan baru yang memasuki dunia kerja (sisi penawaran tenaga kerja) dan kesempatan kerja yang tersedia (sisi permintaan tenaga kerja). Ketidakcocokan ini mungkin bersifat geografis, jenis pekerjaan, orientasi status, atau masalah keahlian khusus.
2.      Terbatasnya daya serap tenaga kerja di sektor formal (tenaga kerja terdidik yang jumlahnya cukup besar memberi tekanan yang kuat terhadap kesempatan kerja di sektor formal yang jumlahnya relatif kecil).
3.      Belum efisiennya fungsi pasar kerja. Arus informasi tenaga kerja yang tidak sempurna dan tidak lancar menyebabkan banyak angkatan kerja bekerja di luar bidangnya. Kemudian faktor gengsi juga menyebabkan lulusan akademi atau universitas memilih menganggur karena tidak sesuai dengan bidangnya.
4.     Pertambahan angkatan kerja baru jauh lebih besar dibanding pertumbuhan lapangan kerja produktif yang dapat diciptakan setiap tahun.
Data pengangguran terdidik di Indonesia cukup banyak, padahal peningkatan pendidikan di Indonesia cukup signifikan.
2.4  Persoalan – Persoalan Yang Dihadapi Mahasiswa Dalam Menghadapi Dunia Kerja
Mahasiswa setelah lulus kuliah tentu ingin cepat mendapatkan pekerjaan sesuai dengan bidang nya serta gaji yang memuaskan. Namun di tengan persaingan kerja yang begitu ketat ini menjadi sangat sulit untuk mewujudkannya.
Memasuki pasar kerja sangat banyak pesaing yang ada sehingga mahasiswa harus mempunyai soft skill. Selain itu ilmu yang di dapatkan di bangku kuliah kebanyakan hanya bersifat teoritis sehingga ketika di aplikasikan di dunia kerja tidak terpakai.
Sebagian banyak mahasiswa juga sering mengalami kegagalan dalam melamar saat interview, karena semasa kuliah sangat jarang sekali di ajarkan materi tentang public speaking  saat menghadapi tes wawancara atau menghadapi orang banyak.









BAB III

METODOLOGI PENULISAN
3.1 Sumber Data
Di dalam penulisan ini, penulis menggunakan data sekunder yang berupa data kepustakaan yang terdiri dari berbagai macam karya ilmiah para ilmuan, buku, jurnal , majalah, koran dan internet.

3.2 Teknik Pengolahan Data
Setelah data dikumpulkan, penulis mengklasifikasikan data-data yang berkaitan dengan permasalahan yang diangkat dalam karya tulis.
3.3 Analisis Data
Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis deskriptif yaitu penulis memusatkan diri pada masalah – masalah  yang ada pada masa sekarang. Data yang di kumpulkan mula – mula di susun, dijelaskan dianalisis dan kemudian dipaparkan dan di interpretasikan untuk mendapatkan pemahaman yang memadai (Surakhmad, 1994).






BAB IV
PEMBAHASAN

4.1 Peranan Perguruan Tinggi dalam Mencetak Mahasiswa yang Berketrampilan.
Dalam persaingan global seperti sekarang, peran Perguruan Tinggi sangat penting dalam mencetak Mahasiswa yang terampil dan handal. Salah satunya dengan cara bekerjasama dengan perusahaan – perusahaan. Kurikulum yang diajarkan juga harus disesuaikan dengan perubahan kebijakan pendidikan berdasarkan pasar kerja (labour market based).  Mata kuliah yang diajarkan juga harus bisa menunjang karir mahasiswa kedepan dan berbobot serta sesuai pada bidangnya.
Sejalan dengan perubahan kebijakan pendidikan berdasarkan pasar kerja (labour market based) seperti dijelaskan di atas,  perlu adanya peran yang tepat dalm menghadapi persaingan di duni kerj nanti sehingga perlu di persiapkan sejk Mahasiswa. Perguruan Tinggi harus mempunyai beberapa langkah untuk memenuhi tuntutan tersebut, diantaranya dengan perubahan kurikulum dan  lebih memfokuskan mahasiswa untuk siap kerja. Karena setiap perusahaan membutuhkan tenaga-tenaga professional yang sesuai dengan kulifikasi yang dicari. Misalnya  Perbankan membutuhkan tenaga profesional perbankan yang handal, telekomunikasi membutuhkan tenaga profesional yang handal, begitu pula bidang lainnya.
 Namun tidak hanya siap kerja saja yang harus di bentuk oleh Perguruan Tinggi tetapi juga jiwa entrepreneur. Karena seperti yang kita ketahui sendiri siklus bisnis selalu bergerak dan setiap pekerja harus siap dengan segal resikonya. Maka dari itu perlu juga di adakan pelatihan berbisnis atau berwirausaha yang dibimbing oleh para praktisi secara langsung.

Mahasiswa wajib mengikuti setiap program yang di berlakukan oleh Perguruan tinggi, sehingga tujuan Perguruan tinggi untuk mencetak Mahasiswa yang unggul dan kompeten dapat terwujud. Program – program yang di berikan kepada Mahasiswa harus sesuai dengan bidang dan mempunyai peran pada karir atau pada dunia kerja nantinya.
Masalah pengangguran terdidik dapat di atasi dengan adanya peran aktif dari Perguruan Tinggi yang memberikan mata kuliah yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja, oleh sebab itu Perguruan Tinggi perlu bekerjasama dengan perusahaan – perusahaan, supaya mahasiswa mempunyai skill dan link  secara langsung terkait gambaran di perusahaan.

4.2  Kualitas Mahasiswa yang Mampu Bersaing di Pasar Kerja
Gambar 4.1 Kualitas Mahasiswa yang mampu bersaing di pasar kerja

 










Penjelasan dari  gambar di atas adalah mengulas tentang kualitas mahasiswa yang di butuhkan oleh dunia kerja, yaitu mahasiswa tidak hanya di tuntut untuk menguasai Hard Skill  tetapi juga menguasai  Soft Skill. Hal ini di karenakan persaingan dalam pasar kerja semakin ketat, tidak hanya mhasiswa dalam negeri saja yang mencari kerja di dalam negeri tetapi tidak sedikit pula orang luar negeri yang menjadikan negara kita sebagai tujuan dalam mencari nafkah.
Mahasiswa untuk bisa mendapatkan pekerjaan dalam duni kerja tudak bis hanya mengndalkan nilai akademik saja, namun juga perlu keterampilan lain atau yang biasa disebut dengan soft skill . IPK (indeks Prestasi Kumulatif ) yang bagus belum tentu mencerminkan tingkat kemampuan mahasiswa, maka dari itu perlu adanya pelatihan untuk menciptakan mahasiswa yang unggul, salah satunya adalah mewajibkan setiap mahasiswa unuk mengikuti organisasi intra kampus, karena di dalam organisasi seorang mahasiswa di latih untuk bias mandiri dan bias bekerja dalam tim dalam menyelesaikan suatu permasalahan ataupun event .
Seperti yang telah diterapkan oleh Universitas Airlangga dalam memberlakukan SKP ( Satuan Kredit Prestasi) itu merupakan program yng sangat bagus, namun masalahnya sekarang tidak semua mahasiswa mengetahui SKP ini, oleh karena itu perlu adnya sosialisasi kepada seluruh mahasiswa dari semua angkatan. Hal yang perlu di perhtikan lagi adalah porsi dari SKP dalam menentukan kelulusan dan criteria wisuwan terbaik. Mahasiswa yang unggul tudak hanya menguasai bidang yang ditekuni saja melainkan juga harus mempnyai  soft skill  yang mendukung, apalagi di pasar dunia kerja sekarang ini persaingan semakin ketat akibat globalisasi.
Mahasiswa harus mampu bersaing dalam pasar kerja dalam mendapatkan pekerjaan, untuk itu mahasiswa harus mempunyai wawasan dan keahlian dalam bersaing. Dengan adanya peran Perguruan tinggi yang aktif dan program – program dapat memberikan bekal dalam persaingan kerja.

4.3 Konsep Link and Match Antara Dunia Pendidikan dan Dunia Tenaga Kerja  dengan Pendekatan Market Labour Based.
Gambar 4.2 Konsep Link and Match Antara Dunia Pendidikan dan Dunia Tenaga Kerja  dengan Pendekatan Market Labour Based


 




                     


 




Penjelasan dari gambar diatas adalah setiap Perguruan Tinggi meningkatkan kerjasama kepada perusahaan dan para praktisi bisnis dan Enterpeneur. Program yang di jalankan pertama Perguruan Tinggi bekerjasama  dengn para praktisi bisnis sukses, dan meminta untuk memberikan materi di kelas dan memberitahukan trik – trik dalam berbisnis. Selain itu mahasiswa juga di latih untuk berwirausaha sendiri dan mengadakan observasi langsung ke tempat bisnis yng sudah mapan. Dari kerjasama ini diharapkan setiap mahasiswa mempunyai jiwa Enterpreneur dan mampu menciptakan bisnis sendiri, sehingga tidak terlalu menggantungkan lowongan yang ada di perusahaan. Dengan alas an setiap tahun alumni dari mahasiswa jauh lebih besar di bandingkan dengan permintaan tenaga kerja di perusahaan.
Perguruan Tinggi bekerjasama dengan perusahaan dapat diwujudkan dengan empat cara  diantarnya, pertama Perusahaan menurunkan para praktisi dan orang – orang yang handal di perusaan untuk memberikan materi di mata kuliah. Sehingga mahasiswa bisa mengetahui gambaran perusahaan dalam dunia nyata tidak hanya sebatas teori. 
Program yang kedua ada Bisnis Visit  yaitu mahasiswa berkunjung secara langsung kepada perusahaan – perusahaan yang dituju untuk mengetahui operasional maupun kegatan dalam perusaan secar langsung. Yang ketiga yaitu adanya magang kerja di perusahaan – perusahaan , dengan ini mahasiswa benar – benar siap untuk memasuki dunia kerja yang penuh dengan saingan.
Program yang keempat ini sudah sering dilakukan oleh berbagi kampus yaitu Job Fair , dengan mempertemukan  permintaan dan penawaran tenaga kerja yng di ikiuti oleh mahasiswa yang memenuhi kualifiksi dengan perusahaan – perusahaan yang dituju oleh mahasiswa. Selain itu pula mahasiswa haruslah mempunyai kemampuan Skill , akademik agar menjadi mahasiswa yang unggul dan mampu bersaing dalam pasar kerja.

Tabel 4.1 Konsep Link and Match  yang di terapkan dalam Perguruan Tinggi
Semester
Program
Waktu
2 dan 3
Ô Pelajaran di kelas oleh praktisi perusahaan dan praktisi bisnis
Ô Pemberian gambaran tentang perusahaan dan dunia bisnis atau Enterpreneur  yang sukses
Satu minggu lima SKS, tiga SKS untuk mata kuliah dengan praktisi perusahaan dan dua SKS untuk raktisi bisnis.
4 dan 5
Ô Bisnis Visit ke perushaan secara langsung
Ô Observasi secara langsung di tempat bisnis atau tempat wirausaha yang mapan.
Ô Membuat  laporan Observasi dari tempat bisnis laporan hasil BV dari perusahaan  
Ô Mengetahui operasional secara langsung

Setiap dua bulan sekali ke perusahaan yang berbeda.
Setiap dua bulan sekali langsung observasi di tempat bisnis yang mapan
6
Ô Magang kerja di perusahaan yang di pilih dan sesuai dengan kemampuan mahasiswa
Ô Tes wawancara/Interview secara langsung oleh penguji – penguji dari perusahaan
Ô Mendapatkan sertifikat Magang dari perusahaan
Ô Mahasiswa harus mampu membuat produk yang akan di pasarkan secara kelompok
Selama satu semester di perusahaan.
Satu semester untuk masa percobaan produk di pasaran

BAB V
PENUTUP

5.1 Simpulan
Berdasarkan uraian diatas maka dapat dapat disimpulkan bahwa :
1.Perguruan tinggi mempunyai peran aktif dalam mencetak Mahasiswa yang unggul dan kompeten terhadap bidangnya, salah satunya dengan cara bekerjasama dengan perusahaan- perusahaan dan para praktisi bisnis yng sudah mapan.
2. Program – program yang berbobot  dari Perguruan Tinggi yang memberikan kontribusi mahasiwa dalam bersaing di dunia kerja.

5.2 Saran
          Setelah mengetahui banyaknya pengangguran terdidik  yang belum mendapatkan pekerjaan beberapa saran yang dapat disampaikan melalui karya tulis ini, yaitu sebagai berikut:
1.Perguruan Tinggi meningkatkan kerjasama dengan perusahaan untuk membuat suatu program yang bisa mencetak mahasiswa handal tidak hanya akademik tetapi juga  skill.
2.Mahasiswa wajib mengikuti seluruh program yang di tetapkan dan selalu di pantau perkembangannya baik oleh Perguruan Tinggi ataupun Perusahaan.
3.Program yang kami tawarkan pada karya tulis kami adalah “Konsep Link and Match Antara Dunia Pendidikan dan Dunia Tenaga Kerja  dengan Pendekatan Market Labour Based
                                               DAFTAR PUSTAKA         

Unmer Malang (1994), Menuju Manajemen Perguruan Tinggi yang Efisien, Rumusan Hasil Seminar, 27-28 Juli 1994, Malang.
Wahjoetoemo (1995), Manajemen Perguruan Tinggi pada Era Global, Grasindo, Jakarta.
Mankiw,N.Gregory.2006.Principle of Economics.Jakarta:Salemba Empat.
Thoni,tonton.2011.Masalahpengangguran.http://tontonthonitonton.blogspot.com/2011/04/makalah-pengangguran-terdidik.html di akses pada 24 oktober 2011
http://www.todaypos.com/new-tabel-pengangguran di akses pada 24 oktober 2011
http://www.andisite.com, 2007 di akses pada 24 oktober 2011
http://www.datastatistik-indonesia.com, 2007 di akses pada 24 oktober 2011
http://www.dephan.go.id, 2007 http://www.google.co.id, 2007 di akses pada 24 oktober 2011
BIODATA PENULIS
Nama                           : BINTI INAZATUZ ZAHRA
NIM                            : 041012202
Jurusan                        : Manajemen
Fakultas                       : Ekonomi dan Bisnis
Universitas                  : Airlangga Surabaya

Tidak ada komentar:

Posting Komentar