Rabu, 23 Mei 2012

Pintu Hati Prisca


PINTU HATI PRISCA

Bibir terkunci tak sanggup berkata
Bising sunyi mendekap kalbu
Gema alunan cinta kian menyapa
Mengoyak keheningan palung hati
Kala terpancar sinar sang surya
Jiwa redup tak kuasa berdiri
Ingin ku terbang dan kusapa mentari
Biarlah merasuk dan mengalir di darahku

Hanya ungkapan kata itu yang mampu dikenang dalam selimut kegelapan kalbu Prisca, terkikis karena luka. Luka menyayat dan begitu perih.
Kisah ini berawal dari seorang gadis jelita dengan rambt terurai panjang yang tengah menghadiri pesta sweet seventeen Wulan. Begitu anggun Prisca mala mini, semua mata tertuju pada sosoknya yang menawan, di balut dengan gaun panjang  berwarna green dengan rambut tertata indah semakin melengkapi keanggunannya. Pesona kecantikannya menyebar di setiap langkahnya, namun tak seperti gadis yang lain Prisca datang seorang diri.
“Selamat ulang tahun ya Lan” ucap Prisca semabari cipika cipiki.
“Ni kado buat kamu” Prisca menyodorkan bungkusan kecil yang di bungkus mama nya tadi  sore.
“Thanks ya Pris” Wulan menerima sembari tersenyum.
“Temen – temen yang lain mana?” tanya Prisca matanya sambil melirik – lirik.
“Ada kok, tadi udah pada datang, yuk kita kesana” Wulan menggandeng tangan Prisca
Mereka berdua melangkh ke posisi teman – teman Prisca dan Wulan yang menampak kan batang hidungnya lebih awal, beberapa menit lalu.
“Wuizzhhh, Pris cantik banget kamu mala mini “ Rizky berkata dengan pasang muka kagum menatap Prisca.
“Biasa aja kali, emang dari dulu aku juga cantik” Prisca menjawab dengan gaya centilnya
“Cantik sihh, tapi kok gak puny pacar ya???” sindir Sari
“Iya tuh Prisca, gak laku – laku” ledek Andre dan seluruh teman Prisca menertawakannya
“Yee.. pada menghina aku. Gak laku Kamu bilang, sebenarnya bukannya aku gak laku ya, tapi aku itu pilih – pilih yang berkualitas and so pasti sesuai dengan tipe aku” dengan wajah sumrigah Prisca menjawab.
“Emang seperti apa sih tipe kamu Pris?” Tanya Rizky.
“Dia itu keren, cowok yang bisa membuat hati…..”
Belum selesai Prisca merampungkan kalimatnya, tiba – tiba tubuhnya terguncang dan jatuh. Ada sosok tinggi yang menabrak tubuh mungilnya.
“Maaf, aya tidak sengaja” Tangan nya membantu Prisca berdiri
Prisca berdiri tercengang sosok asing yang yang ada di depan bola matanya.
Sumpah deh,ni cowok keren banget
“Kamu gak papakan?”
Prisca menjawab dengan nada gugup “Ehmmm aku gak papa kok “
“Sekali lagi aku minta maaf ya “ cowok putih itupun  tersenyu sembri berlalu meninggalkan Prisca dalam kekaguman nya. Cewek ini cantik juga.
Temen – temen Prisca menyoraki, wajah Prisca tampak merah seperti udang goreng.
“Cie cie.. ada yang lagi kesengsem dengan cowok nih ya… “ goda  Amel
“ Apa sehh kalian, biasa aja kali “Prisca menjawab dengan wajah malu – malu.
 Siapa ya cowok tadi, gak pernah liat dia dehh
“Pris yuk kita kesana, udah mau mulai acara potong kue nya” ajak Sari yang membuyarkan lamunan Prisca.
“Hmm apa Sar? Aku gak denger”
“Tuh kan, agi nglamunin cowok tadi?” Sari menebak isi hati Prisca
“Ah kamu, kgak juga, ngapin mikirin cowok kay dia”
“Ya udah deh kita langsung cap cus kesana” Sari menggeret tangan Prisca ke tempat potong kue.
Menit demit berlalu, acara berlangsung dengan meriah dan sukses, Usai acara makan makan yang prasmanan di lengkapi dengan menu yang terhidang special. Seluruh teman – teman dan tamu undangan berpamitan kepada Wulan yang berdiri berjejer dengan Mamanya.
“Lan, aku balik dulu ya?” Prisca menyalami Wulan.
“Pris, kamu jangan pulang dulu ya, aku ada perlu dengan kamu bentar” menarik tangan Prisca  ke arahnya.
“Perlu apa Lan?” Prisca sedikit bingung
“Ah aku tahu, pasti kamu di suruh bantu bers – beres dan cuci piring” jawab Sari
“Ya enggak lah, udah deh gak usah banyak Tanya” Wulan menjawab
Sedikit demi sedikit tamu undangan Wulan meninggalkan tempat pesta, dan bergegas ke kediaman masing – masing. Wulan menarik tangan Prisca dan di gandeng menuju taman di depan rumah.
“mau ngapain sih Lan, kamu ngajak aku kesini segala? Ini udah malem ya, ny=tar supir ku nunggu lama kamu, udah tak suruh jemput dari tadi”
“Prisca cantik, tokamung ya jangan bicara sebentar aja, berisik tahu, ntar kamu juga tahu kok” Wulan dan Prisca berhenti melangkah.
“Dit, sorry ya nunggu lama, aku tadi masih salamn saman temen – temen ku” Wulan mendekat kea rah sosok tinggi di depannya.
Siapa tuh cowok, kayak nya aku pernah ketemu, kakamu dilihat dari pakaiannya…..
 Prisca memutar memori otaknya untuk mengingat memori yang terekam, sementara Wulan dan cowok tinggi itu berbisik –bisik.
“Pris, kenalin ini Radit teman SMPku yang pernah aku certain ke kamu”
Prisca kaget setengah mati, matanya terbelalak
“Hay , Aku Radit” sembari mengulurkn tanganya di sertai senyum yang mengembang.
Dengan hati nervous Prisca menyambut tangan Radit “ Prisca”
 Ya ampunn, ni kan cowok yang nabrak aku tadi, oh my god handsome banget.
Radit jug menampakkan ekspresi yang sama, senyumnya begitu manis.
 Cewek manis banget ya.. cantik lagi..
Mereka bertiga berbincang – bincang di taman, namun tiba – tiba Mama Wulan memnggil untuk masuk kedalam ada sahabat mamanya yang ingin bertemu
“Aku tinggal bentar ya Dit, awas ya jangan ngapa – ngapain Prisca”
Lama juga gak papa Lan, aku betah kakamu sama cowok bening kayak gini
“ Iya sip lah beres pokonya, emangnya aku anak kecil apa”
Wulan beranjak kedalam “ Aku kedalam dulu Lan”
“Oke , jangan lama – lama ya”
Di taman hanya ada dua insane, di bawah cahaya bulan purnama dan disasksikan bintang yang berkelip riang menjadi saksi pertemuan pertama antar Radit dan Prisca. Merh merona paras Prisca dan tak sanggup berkata sepatah kata pun, Radit merdam suasana yang mencekam. Dengan mengajak ngobrol Prisca. Belum begitu lama mereka berbicara, tiba – tiba Black Barry Prisca mengeluarkan nada –nada indah.
“Halkamu, iya Mam ada apa?. Iya ini juga mau pulang kok Mam, Oke Mama ayang”
Prisca menutup ponselnya.
“Disuruh pulang ya?” tanya Radit
Prisca tersenyum “ iya, aku balik duluan ya Dit”
“Mau aku anterin pulang Pris?”
“Gak usah, aku udah di tunggu supirku sejak tadi di depan”
“Hati – hati ya, Senang berkenalan dengan kamu” pesn Radit seraya tersenyum
“ Oke, nice to meet you too”
Prisca melangkah ke temapt Wulan dan berpamitan.
Prisca meninggalkan kediaman Wulan dan bergegas ke rumahnya.
“ Gimana Dit, Cantik kn temen aku” tanya Wulan pada Radit yang nyengar nyengir sendirian.
“Kali ini aku hargai Kamu gak hanya seratus lan, tapi seribu, Kamu gak salah milih cewek, dia benar – benar cantik”
                                    ***
Semenjak pertemuan di pesta tadi, tak sedetikpun bayangan radit sirna di mata Prisca. Begitu juga dengan Radit, senyum manja Prisca  melekat di pelupuk matanya. Kedua insane yang tengh kasmara itu sulit memejamkan mata.
Ya Tuhan, rasa apa yang melanda hatiku ini, mengapa aku begitu sulit menghapus bayangan parasnya, masak aku suka sama Radit. Aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
 Prisca senyum – senyum sendiri sembari memeluk gulingnya dan membenamkan wajahnya di guling. Sama halnya dengan Radit, diatas ranjang matanya berkerlap – kerlip angannya melintasi awan lamunan nan tinggi.
Prisca,.. nama yang indah, seindah orangnya, mengapa aku gak bisa melupakan senyumannya. Mengapa dadaku berdegup kencang saat menatap bola matanya. Mungkinkah aku jatuh cinta pada pandangan pertama.
Radit tersenyum manis, tangannya membenahi posisi bantalnya. Dipejamkan matanya dalam hati penuh harap.
Aku berharap Prisca juga merasakan hal yng sama seperti aku.
                                    ***
Mentari pagi telah menypa dengan sinar hangatnya, Prisca bersemangat dengan hati berbunga – bunga bergegas ke sekolah se usai sarapan dan diantar dengan supir pribadinya. Prisca sudah tidak sabar menceritakan kejadian semalam yang menimpa dirinya kepada Septi, sahabat karib sekaligus teman sebangkunya.
“Masak sih ganteng banget? Ganteng  mana sama Ardi?” Septi membandingkan dengan cowok terkeren di sekolahan.
“Yahhh Ardi mah lewat”
“Lewat mana Jenk?” goda Septi
“Maksud aku Ardi jauh banget lah kakamu di bandingin dengan Radit. Kamu sihh tadi malam gak datang ke pestanya Wulan, makanya gak tahu”
“Aku penasaran tuhh ma dia, seperti apa sihh gantengnya”
“Gak usah penasaran, aku juga pasti kenalin ke kamu kok, asal….. kamu…”
“Aku kenapa???” Tanya Septi heran
“Kamu gak naksir ma dia” Prisca tertawa
“Yeee. Gak lah aku kan sudah punya Rangga, gak mungkinlah aku suka sama cowok lain” sanggah Septi
“Eh Sep, tapi…..”
“Tapi kenapa Pris?”
“Aku lupa gak minta nomer HP nya dia” Prisca sedikit bingung
“Yah kamu Pris, gimana bisa menghubungi dia kalo gak punya nomer nya”
Tiba – tiba Wulan menghampiri Prisca yang tengah berbincang dengan Septi di bangkunya.
“Pris, nomer HP kamu ganti ya?” Tanya Wulan
“Gak tuh Lan, nomer ku tetep kok”
“Tapi Rdit menghubungi kamu katanya nomer kmu gak aktif”
“Radit?” Prisca shock namun berbunga – bunga
“Iya tadi malem dia lupa minta nomer HP kamu, terus dia minta ke aku, aku kasih nomer kamu yang belakangnya 622 tapi pas dihubungi gak bisa”
“Kalo nomer yang itu emang udah gak aku pake Lan, nomerku sekarang ganti”
Tiba – tiba Bu Heny guru matematika memasuki ruang kelas
“kalo gitu kamu ketik nomer baru kamu di HP ku” Wulan menyodorkan HP nya. Prisca mengetik angka 085735648224
“Udah ni Lan”
“Ya udah aku balik dulu ya” Wulan menuju ke kelasnya di XI IPA 3
Pelajaran pertama hari Rabu ini Matematika.
“Berarti ini tanda – tanda Pris”
“Tanda – tanda apa?”
“Radit juga suka sama kamu”
Prisca tersenyum “ harapan ku juga gitu Sep”
“Radit skul dimana sehhh? Tanya Septi
“Dia di SMAN 17 Jakarta”
Mereka asik berbincang sendiri, akhirnya mendapat teguran dari Bu Heny.
Mulai hari itu, Radit dan Prisca sering SMS-an dan sering pula jalan berdua. Mereka sering ke XXI, Ancol, Dufan ato tempat jalan yang lain. Semakin hari hubungan mereka berdua semakin lengket seperti gula dan semut. Hari – hari Prisca dipenuhi dengan lembaran – lembaran indah bersama Radit. Prisca begitu bahagia dalam menjalani hari – harinya.
Satu bulan telah berlalu. Seperti yang terduga, Prisca dan Raditpun jadian. Namun seiring kedekatannya dengan pujaan hatinya ini, Prisca menjadi pribadi yang berubah. Prisca selalu berusaha berpenampilan cantik dan seksi di hadapan Radit sampai – samapi di merubah penmpilannya demi Radit. Dalam benak Prisca, dia harus tampil  perfect  di hdapan sang kekasih hatinya. Meski sebenarnya Prisca bukanlah cewek yang suka dandan, tetapi hal ini tetap dilakukan demi nenyenangkan Radit.
Septi mencoba mengingatkan Prisca tentang rasa yang mengganjal hatinya. Septi begitu kecewa atas perubahan yangdrastis dari shbt bikny sejk SMP itu.
“Pris, yang namanya cinta itu  harus menerima dengan apa adanya  bukan malah merubah”
“Maksud kamu apa sih Sep, aku gak ngerti”
“Kamu sekarang itu banyak berubah, gak seperti dulu Prisca yang aku kenal, aku merasa kamu sekarang menjadi orang asing semenjak kamu jadian dengan Radit”
“Berubah gimana siih Sep? perasaan aku juga seperti biasanya aja”
“Sekarang kamu gak ada waktu lagi buat aku Pris, kamu sering berangkat tela, gak pernah ngerjakan PR, kalo di kelas sering tidur, penampilan kamu juga berubah, mulai dari cara berpakaian, tatanan rambut samapai make up kamu”
Prisca mencoba membela diri dengan berbagai alasan.
“Septi kamu kaya baru kenal aku aja siihh. Aku berangkat telt karena kesiangan, kadang lupa gak ngerjain PR soale pulng mlem udah capek nyampe rumah, kalo gak ada waktu buat kamu kan kamu juga sudah ada Rangga. Kalo penampilan aku memang berubah demi Radit karena dia suka aku dandan yang seperti ini. Aku sekarang punya Radit jadi aku mohon kamu ngerti ya Sep”
“Iru semua bisa terjadi karena kamu kalau malam dugem sama Radit kalau gak gitu ke XXI atau nemenin Radit maggung sampai larut malam, aku memang punya Rangga Pris, tapi kta ini sahabatan Pris. Sesibuk apapun aku dengan Rangga aku selalu ada waktu buat kamu, buat kita sharing- sharing bareng”
Prisca terdiam seribu bahasa
“Pris, aku itu aying sama kamu sebagai sahabat, aku gak mau kamu menyesal nantinya, kalo Radit mencintai kamu dengan tulus, dia pasti menerima kamu apa adanya. Bukan malah merubah menjadi seperti yang dia inginkan, kalau seerti itu namanya perjanjian bukan cinta”
Prisca tercengang mendengar penuturan sahabatnya
“Tapi aku bahagia kok Sep, dengan perubahan ku yang sekarang”
“Pris, kamu harus sadar donk penampilan kamu itu sudah gak wajar, anak – anak pada ngomongin kamu “
“Ya biarin mereka mau ngomongin apa tentang aku, paling juga iri sama ku”
“Pris, aku mohon kamu sadar donk, Radit itu cowok yang gak baik buat kamu, dia hanya mempermainkan kamu aja” Septi menasehi
“Apa kamu bilang? Radit cowok yang gak baik. Apa maksudny a? Jangan sembarangan ngomng ya Sep,aku lebih kenal dekat dengan Radit, dia baik kok”
Terserah deh Pris kalau kamu gak percaya, tapi aku yakin suatu saat hubnungan kamu ma Radit akan berakhir”
“Kamu gak usah sok tahu ya Sep, okelah kalau kamu memang gak suka dengan hubungan ku dengan Radit tapi jangan mendoakan jelek kaya gitu donk”  Prisca sinis
“Aku gak do’ain Pris tapi aku gak mau kamu terluka Pris gara – gara cowok playboy itu “
Apa? Radit playboy? Jangan ngawur ya kalau bicara Sep”
Aku gak ngawur Pris, tapi aku tahu dengan mata kepalaku sendiri dua kali aku tahu Radit berduaan dengan cewek yang berbeda di Bioskop”
“Okelah Sep, kalo pandangan kita memang sudah berbeda, mendingan kita putus persahatn aja Sep, aku gak mau kamu jelek – jelek in Radit, dimana – mana yang namanya sahabat itu mensupportbukan malah menghujat”
Prisca berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan Septi  yang masih duduk di meja makan restoran ternama di Jakarta itu.
“Prisca…. Prisca.. kamu jangan marah gitu… “
Septi hanya bisa menghela napas panjang sembari berdo’a
 Ya Tuhan, sadarkan Prisca, sahabatku, aku gak mau terjadi apa – apa dengan dia.
                                                ***
Hubungan Prisca dan Septi retak hanya karena seorang cowok. Ibarat pepatah Karena setitik rusak susu sebelanga. Persahabatan yang telh di bangun sejak SMP dulu harus berakhir karena seorang cowok.
Prisca lebih percaya dengan Radit daripada septi sahabatnya, padahal semua ucapan Septi adalah fakta. Namun pintu hati Prisca telh tertutup oleh cinta buta. Semua ucapan  dan tindakan Radit dianggap benar. Radit adalah cowok playboy dan suka mempermainkan  perasaan cewek.
Suatu malam Prisca dan Radit tengah menikmati hangout  di Mall, tiba – tiba seorang cewek berambut pendek sebahu langsung memeluk Radit tanpa sungkan.
“Ayang.. aku kangen banget sama kamu, kenapa HP kamu gak pernah aktif, apa kamu ganti nomer ayang?”
Radit melepas pelukan cewek berambut pirang tadi “ Aku lagi sibuk May, jadi HP ku jarang aktif”
Siapa tuh cewek payang ke Radit, Aku itu pacarnya radit, enk aja manggil ayang… ihhhh nyebelin…
“Sapa dia..????” sembari menatap Prisca dengan pandangn heran
“Ehmmm.. dia.. dia..”
“Siapa dia? Selingkuhan kamu ya?”
Maya marah – marah di depan umum
“Eh siapa sih Lo, gua ini pacarnya Radit, jadi jangan berani – berani mendekati Radit, atau Lo berurusan sama gua” tantang Maya pada Prisca
Prisca hanya bisa diam seribu bahasa, dia tidak phm dengan situasi yang ada. Radit meredam suasana dan mencoba menjelaskan kepada Maya. Namun malah tamparan keras dari Maya yang di dapatkan di pipinya yang mulus.
Mata Prisca berkaca – kaca seolah tak percaya dengan yang terjadi di depan matanya tadi. Maya berlalu.
“Ayang,cewek tadi itu siapa??? Pacar kamu kah??” Tanya Prisca.
Radit gugup” ehm.. bukan.. dia bukan pacar ku..”
“Terus kenapa dia panggil ayang dan marah –marah sama aku?”
“ Itu karena…..”
“Sudah lah Dit, aku sudah tahu semuanya , kamu jahat, aku benci kamu. Kita PUTUS”
“Prisca dengerin dulu penjelasan aku… “
Prisca berlari meninggalkan Radit sembari meneskan air mata menuju ke lantai dasar dan Radit berusaha mengejar namun Prisca tetap berlari dan berlalu. Prisca pulang naik taxi. Di dalam taxi air mata Prisca tak henti – hentinya meleleh  hatinya hancur melebur dan sangat menyesali karena tidak mendengar nasehat Septi.
Radit tak kuasa untuk membendung perasaan dalam kalbunya. Sejujurnya Prisca adalah gadis pertama yang membuat Radit merasa nyaman dan Radit begitu menyayanginya. Radit menguras otaknya memikirnya cara bagaiman mendapatkan kata maaf dari Priscadan bisa balik seperti yang dahulu lagi.
Pokok nya aku harus bisa mendapatkan Prisca, terlalu sulit dia untuk dilupakan, aku kangen dengan sifat manjanya dan dia Prisca yang selalu perhatian dengan aku, dari semua pacar – pacar ku hanya dia yang paling perfect.
Radit berdiri di dekat candela kamarnya, ikirannya tak mampu lepas dari Prisca. Berbagai trik telah dipersiapkan Radit untuk mendapatkan cinta dari Prisca lagi.
Prisca menangis tersedu – sedu di kamarnya, Septi sedang ada di luar kota berada di kediaman tantenya yang sedang ada acara, Prisca menyesali sikapnya yang tidak memerdulikan nasehat sahabatnya. Ditengah mala mini, di temani buln sabit Prisca menguras air matanya ditemani luka yang menganga. Prisca menghubungi Septi namun tak ada jawaban. HP nya tidak aktif. Prisca semakin gundah tidak ada tempat untuk bercurah dan menenangkn diri.
Keesokan harinya Prisca tidak masuk sekolah, badan nya demam. Radit sepulang sekolah datng ke sekolahan Prisca namun dia tidak berhasil bertemu dengan Prisca. Setelah cukup lama menunggu akhirnya Radit mendapatkan informasi dari teman Prisca bahwa dia hari ini tidak masuk sekolah karena sakit. Radit mencoba mendatangi rumahnya Prisca, namun malah mama Prisca mengusirnya karena mama Prisca beranggpan dialah sumber permasalahan Prisca.
Hari pertma Radit gagal menjalankan misinya. Hari berikutnya adalh hari Minggu, seperti biasanya Prisca mengikuti privat bahasa inggris di LBB Prima Siswa. Sepulang bimbingan, saat Prisca menanti sopirnya datang, tiba – tiba ada sosok yang tak asing lagi muncul di depannya.
“Prisca”
Prisca diam dan cuek.
“Pris, aku mohon dengerin penjelasan akuini semua hanya salah paham, tolong beri aku kesempatan kedua kali,  aku janji gak akan terjadi kayak yang kemaren. Aku sangat ayang sama kamu Prisca. Aku gak bisa jauh dari kamu.
“……………”Prisca membungkam mulut sembari matanya memandangi layar HP. Berharap supir pribadinya segera datang.
Radit berlutut di hadapan Prisca di depan umum. Sembari memegang kaki Prisca.
“Prisca aku mohon beri aku kesempatan kedua, aku gak bisa hidup tanpa kamu”
Prisca merasa sangat malu karena di lihat oleh khalayak ramai.
“Radit kamu apa –apaan sihh, jangan buat aku malu”
“Aku gak akan bangun kalau kamu gak maafin aku”
Mobil Prisca datang. Prisca ingin bergegas meninggalkan PRadit namun tak bisa karena kakiny di tahan oleh Radit.
“Prisca kalau kamu tidak mau maafin aku, aku akan teriak dengan keras ke semua orang dan bilang aku ayang kamu”
“Radit kamu jangan gila donk,  lepasin kaki ku aku mau pulang”
Radit tidak melepas kaki Prisca, namun malah berteriak dengan keras. Semua mata tertuju pada Radit dengan tatapan heran dan menahan tawa.
“Pengumuman – pengumuman.. aya adalah laki – laki yang sangat bodoh sudah menyia – nyiakan seorang cewek cantik yang seperti bidadari, dan aya mohon kalian semua mendukung agar aya bisa balikan dengan cewek pujaan hati aya ini”
Telingn Prisca perih juga dan mukanya merah meron, dia malu dengn orang yang lalu lalang. Tangan Prisca membangunkan Radit.
“Dit, kamu berdiri dn aku mohon kamu diam, jangan buat aku malu”
“Aku gak mau berhenti kalo..”
“Iya aku udah maafin kamu, cepet berdiri dan pergi”
“Aku gak mau hanya kata maaf tapi aku mau kamu jadi pacarku lagi”
“Apa???”
“Pengumuman – pengumuman..” belum selesai Radit merampungkan kalimatnya, tangan Prisca menutup mulut Radit.
“Iya, aku mau jadi pacar kamu lagi, tapi….”
Radit berdiri “ tapi kenapa Pris?”
“Kamu harus janji gak akan mengulangi lagi dan janji kamu gak akan nyakiti hatiku lagi”
“Aku janji Pris, aku gak akan mengulanginya lagi”
Radit memeluk Prisca.” Aku gak bisa jauh dari kamu Prisca. Aku ayang banget sama kamu, aku mohon jangan tinggalin aku”
Prisca juga membalas pelukan Radit “ Sebenarnya aku  juga ngerasain hal sama Dit”
Mereka berdua jadian lagi.
“Pak aya pulang bareng Radit” ucap Prisca kepada supirnya.
Radit dan Prisca berboncengan motor, mereka berdua pergi ke Dufan. Mereka berdua sudah tampak akrab lagi dan begitu mesra seolah tak pernah ada pertengkaran.
                                    ***
Kabar putusnya  dan nyambung antara Radit dan Prisca belum pernah sampai di telinga Septi dan hubungan mereka berdua masih tetap renggang.
Suatu hari, tepat dengan hari libur nasional, Radit mengajak Prisca ke Ancol karena disna sedang ada hiburan music papan atas yang sangat di kagumi Prisca. Usai menonton merek berdua masih menikmati suasana Ancol yang begitu ramai, mereka berdua naik di beberapa permainan yang di sukai Prisca.
Usai berheboh ria, mereka makan di salah satu rumah makan.
“Ayang aku pinjem HP kamu ya, but bales SMS nya Sari aku lupa belum ngisi pulsa”
Radit merogoh sakunya dan menyodorkan HP nya “ini ayang”
Usai membalas SMS dari Sari, Prisca mengembalikan HP nya pada Radit
“Kamu bawa dulu aja Ay, aku mau ke toilet bentar”
“Oke, jangan lama – lama ya…”
“Sip lahh, aku segera kembali”
Prisca duduk sendirian di meja nomer 4 sembari menunggu pesanan datang. Prisca melihat daftar lagu yang ada di M3 ponsel Radit, namun hati Prisca tiba – tiba tergugah untuk melihat folder foto, sangat terbelalk mata Prisca karena di dalam HP Radit banyak sekli pose Radit dengn cewek – cewek yang tdak di kenali Prisca. Mereka berpose sanagt mesra. Belum puas melihat folder foto, Prisca melihat inboxdan sent item ternyata berisi SMS Radit dengan cewek lain yang begitu mesra.
Kurang ajar banget nichh cowok, dia sudah menyaiti aku untuk yang kedua kalinya, aku gak akan maafin kamu lagi.
“Maaf y nunggu lama, tadi masih antre”
“…………….” Cemberut dan menatap Radit dengan sinis sembari menyodorkan HP nya.
“Ayang, gitu aja marah sih? Ntar cantiknya ilang lo” Radit menggoda
“Jawab dengn jujur Dit, siapa Fara? Kenapa dia SMS pake kata sayang”
Waduhh lupa belum kuhapussms di inbox sama sent item nya.
“Napa diem?”  Siap juga cewek yng foto – foto dengan kamu, kenapa posenya mesra banget sama kamu?”
“Ehmm itu.. itu..”
Prisca berdiri dari tempat duduknya “Aku kecewa ma kamu Radit, kita PUTUS jangan pernah kamu menghubungi aku lagi”. Air mata Prisca mengalir dari matanya yang bening.
Radit bangkit dari tempat duduknya “Prisca dengerin dulu penjelasanku…”
Namun Prisca telah berlalu meninggalkan Radit. Raut muka Radit tampak kecewa dan penuh sesal. Dinner kali ini merupakan terakhir kalinya Radit berdua dengan dengan Prisca.
Air mata Prisca berderai tanpa henti, tubuhnya bergetar, lemas dan tak berdaya. Hatinya bak tertusuk seribu duri. Prisca memnaringkan tubuhnya di ranjang. Mama Prisca mengetuk pintu kamar Prisca dan menedaki putrid kesayangannya, ap yng membuatnya menangis. Prisca langsung memluk mamanya.
“Ada apa sayang? Kenapa kamu menangis?”
“Radit Ma…..” Prisca berkata dengan sesenggukan tangis
“Radit kenapa? Menyakiti kamu lagi?”
Prisca semakin erat memeluk mamanya dan semakin keras tangisannya, mama Prisca mencoba menenangkan dengan mengelus rambutnya yang terurai.
“Sabar ya sayang, mungkin dia memang orang yang tepat buat kamu”
“Prisca nyesel Ma mencintai Radit, gara – gara dia persahabatanku sama Septi hancur”
“Ya sudahlah, semuanya sudah terjadi mau disesali juga gak ada gunanya, besok kmu minta maaf sama Septi dan ajak maen kesini sudah lama dia gak maen kesini”
“Tapi………… Prisca mali Ma”
“Malu kenapa sayang? Mama yakin dehh Septi justru malah seneng kalau kalian temenan lagi, karena sekarang kamu sadar kalau Radit itu cowok yang tidak baik untuk kamu”
                                    ***
Tidak seperti hari – hari biasanya, paras Prisca tampak sumringah. Sikap Prisca ke Septi juga berubah. Semenjak pertengkaran hebat antara kedua sahabat kecil itu, mereka tidak duduk satu bangku lagi. Sewaktu pulang sekolah, saat siswa – siswa berhamburan Prisca menarik tangan Septi.
“Sep, aku mau ngomong penting sama kamu, bisa kan kamu tinggal sebentar di kelas”
Memandang Prisca penuh heran “ Oke”
Semua siswa telah meninggalkan kelas “Sep, aku mau minta maaf sama kamu atas semua sikap ku slama ini, aku yang slalu egois, tak pernah mendengar nasehatmu. Sep kamu mau maafin aku kan?” meraih tangan Septi
Septi tersenyum dan terdiam sejenak “ Ehmmm… maafin gak ya….??? Sudah terlalu kelewatan sikap kamu Pris, masak lebih percaya sama orang lain dari pada sahabat sendiri”
“Jadi.. kamu gak mau maafin aku Sep?” Prisca tampak panic
“Ya bener.. aku gak mau…. Nolak maaf kamu”
Prisca menatap Septi dengan senyuman. Kedua sahabat itu berpelukan
“Kamu bikin aku shock Sep”
“Biarin, sudah lama aku gak ngelihat ekspresi kamu kayak tadi”
Makasih ya Sep, memang kamu sahabat terbaikku”
Keduanya melepas pelukan, Prisca menumpahkan segala unek – unek nya dan rasa sakitnya yang mendalam karena luka dari Radit kepada Septi.
“Ya sudahlah Pris, gak usah di tagisi lagi, cowok kaya gitu gak pantes buat di tangisi oleh tuan putrid secantik kamu” goda Septi
Prisca tersenyum “ pasti kamu, suka godain, tapi… bener juga kamu Sep, aku gak boleh menangisi cowok kaya dia”
“Nah gitu donk baru namanya Prisca temen Septi yng paling baek”
“Kok temen?” Tanya Prisca
“Emang apa? Pacar? Ogah ah aku masih normal, Rangga terlalu manis buat di bandingin sama kamu” septi tertawa lepas
“Yeee siapa yang suka sama kamu, aku juga masih normal kali, maksudku adalah sebagai sahabat bukan temen”
Mereka berdua berjalan beriringan menuju gerbang sekolah, Prisca menanti sopirnya dan Septi menanti pujaan hatinya Rangga yang masih mengambil motor di parkiran.
                        ***
Radit menyesali atas semua sikap nya kepada Prisca , dia sudah menyia – nyiakan kesempatan kedua yang diberi oleh Prisca. Berulang kali Radit minta maaf namun tetap saja hati Prisca telah beku, tidak ada ruang untuk Radit.
Radit mendatangi kediaman Prisca, pertama Prisca tidak mau menemui namun mama Prisca memaksa.
“Ayolah sayang, temui Radit untuk terakhir kali ini saja, semuanya diawali dengan baik dan harus diakhiri dengn bik juga”
“Tapi Ma…”
“Gak pake tapi – tapi an… ayo temin dia, kasian udah nunggu kamu lama sejak tadi”
Dengan terpaksa Prisca menemui Radit di ruang tamu.
“Kenapa kamu kesini?” Prisca bertanya dengan muka sinis dan cuek
“Aku mau minta maaf  Pris, kamu mau maafin aku kan?”
“Oke aku udah maafin kamu, tapi inget jangan pernah ganggu hidupku lagi, dan aku harap ini adlah pertemuan kita yang terakhir”  Prisca berdiri dari tempat duduknya dan meninggalkan Radit yang masih terdiam di ruang tamu.
“Prisca… “
Prisca tak menanggapi panggilan Radit dan terus menaiki tangga menuju kamarnya.
Ya Tuhan, semoga keputusan yang aku ambil ini adalah yang terbaik untuk aku dan Radit. Maafin aku ya Dit, aku udah gak bisa ngasih kesempatan lagi ke kamu. Terlalu dalam luka yang kamu berikan.
Mama Prisca mendekati radit dan mencoba menenangkan Radit yang tengah galau.
“Tante, tolong saya bilang sama Prisca kalau saya sangat mencintai dia, saya gk mu pisah sama dia tante” Ucap Radit penuh harap kepada mama Prisca
“Radit, tante gak bisa ngomong banyak, yang tahu kepeutusan untuk dirinya adalh Prisca sendiri, jadi tante gak bisa memaksa hati Prisca. Tante harap kamu ngerti ya”
                                                ***
Semenjak Prisca putus dengan Radit, pintu hatinya tertutup untuk laki – laki manapun. Anggapan Prisca  semua laki – laki sama, hanya membuat wanita menagis dan mempermainkan perasaannya. Hanya untuk kesenangan sesaat setelah itu di tinggalkan, setelah itu akan memberikan air mata sebanyak samudra hindia. Sekarang dia benar – benar konsentrasi dengan sekolah.
Prisca menta kembali hidupnya yang telah berubah karena Radit. Prisca berusaha menjadi dirinya layaknya dulu, Prisca yang sederhana dan apa adanya. Prisca mulai menata sekolahnya lagi, yang sempat porak porandayang terabaikan hampir satu musim. Pelajaran yang sempat berantakan kini mulai diperbaiki.
Ujian semester kenaikan kelas beelalu, masa remedy juga telah lewat, saat pembagian raport telah tiba, benar – benar membelalakkan mata sangat jauh berbeda nilai – nilai yang berderet di raport Prisca disbanding semester III. Prisca mampu menyabet juara III di kelas XI IPA 2.
“Selamat ya Pris” Septi member ucapan sembari memeluk Prisca.
“Makasih ya Septi sayang”
“Aku ditraktir kan?”
“So pasti, don’t worry!!! Ntar malem ya sekalian shoping”
“Sip lah, mau di belikan baju kah aku?”
“Yee… untuk bajunya beli sendiri donk”
Finally mereka berdua malam itu shoping setelah hampir satu semester tidak shoping, setelah itu mereka makan di Restoran favorit Prisca.
Liburan semester IV ini berdurasi dua pekan. Seluruh siswa kelas XI yang sekrang naik ke kelas XII mengikuti studitour ke pulau dewata. Mereka begitu menikmati pemandangan di tanah lot dan pantai yang palig ramai di kunjungi wisatawan asing.
“Eh Sep, kamu tahu gak cowok yang ada di sebelah aku tadi, ganteng  banget ya” Prisca berkata dengan senyum – senyum manja.
“Cowok yang ada di lift tadi maksud mu?”
“Bener banget Sep, kayak idolaku Kiem Hyun Joong”
“Hmmm… ya jauh lah jenk… plis dehhh. Katanya  benci sama cowok, udah balik normal ni?” sindir Septi dengan khas bercandaanya
“Sial kamu, emang kamu kira aku gak normal apa? Untuk pacaran aku yang gak mau, tapi kalo…. Sama si dia tadi mau aku”
Mereka menuruti lantai enam menuju ke lantai dua di hotel berbintang lima itu untuk dinner bersama.
Studytour   dari Bali berlangsung dengan sukses, setelah itu Prisca menghabiskan holiday  nya di rumah neneknya di kota pahlawan Surabaya.
                        ***
Hari terus berlalu dan berganti, tak terasa liburan telah usai. Seluruh siswa SMAN 23 Jakarta memulai aktifitasnya kembali untuk menuntut ilmu. Prisca kini berada di kelas XII  menjadi siswa paling senior di sekolah. Beruntung sekali Prisca karena masih satu kelas lagi dengan Septi. Tepatnya ada di kelas XII IPA 3.
“Prisca,  dapat salam dari Radit “ kata Wulan yang sekarang sekelas dengan Prisca.
“Radit? Mantanku?”
“Iya Radit mantan kamu, dia bilang kangen banget sama kamu”
“Salam balik ya, bilangin ma Radit ya kalu aku sudah punya pacar”
“Siapa pacar kamu Pris?”
“Ntar kamu juga tahu kok Lan, aku duluan yam au ke kantin”
“Oke” Wulan sedikit bingung
Prisca menarik tangan Septi keluar perpus menuju kantin.
“Pris, sapa pacar kamu? Kok kamu gak bilang – bilang. Sekarang main rahasia – raasiaan ya?” Septi berucap dengan paras kecewa.
“Sttt jangan keras – keras” Prisca membisiki Septi
“Owww gitu… aku kira…” Septi senyum – senyum.
“Ayo cepetan kita ke kantin udah laper banget aku”
Prisca terpaksa membohongi Wulan karena sebenarnya dia belum mempunyai tambatan hati baru, hl ini dilakukan supaya Radit tidak berharap lagi kepada Prisca.
Satu minggu berlalu. Senin pagi ini, suasana kelas Prisca sedikit berbeda. Saat jam pelajaran dimulai tiba – tiba ibu wali kelas masuk kelas dengan  diikuti sosok tampan, tinggi, putih berseragam abu – abu putih. Ibu wali kelas memberi tahu kepada seluruh siswa bahwa ada murid pindahan baru. Ibu Ika mempersilahkan murid baru untuk memperkenalkan diri
“Selamat pagi semuanya” seluruh mata tertuju pada sosok yang ada di depan kelas
“Selamat pagi” jawab seluruh siswa kompak
“Perkenalkan nama saya Dwi Bayu Mahardika, cukup panggil saya Bayu, saya pindahan dari Yogyakarta, saya pindah ke Jakarta karena mengikuti orang tua saya yang pindah tugas.
Setelah perkenalan itu, Ibu Ika menyuruh Bayu duduk di belakang Prisca, karena bangkunya masih kosong. Berdegup kencang jantung Bayu ketika melintasi Prisca.
Cewek ini senyum nya manis sekali.
 Septi membisiki Prisca “Pris, cowok tadi cakep ya..”
“Ah biasa aja kale, gak level”
“Jangan ngomong gitu Pris, ntar kena karma baru tahu rasa”
“Karma apa?”
“Kmu jadi tergila – gila ma dia”
“Yeee… gak bakalan, Kiem Hyun Joong terlalu jauh di bedakan sama cowok itu”
Prisca memang sangat menyukai film Korea Naugty Kiss.
“Prisca, Septi jangan bicara sendiri” tegur Ibu Ika
“Iya Bu” jawab mereka kompak
Ibu Ika meninggaljan ruang kelas, kemudian pengajar fisika Ibu Citra memulai pelajaran.
                                                ***
Sebulan telah berlalu. Prisca semakin akrab dengan Bayu, tanpa disadari Bayu jatuh hati kepada cewek cantik yang duduk di depan bangkunya. Namun sayangnya perasaan Bayu tidak terbalas karena pintu hati Prisca telah terkunci rapat.
Minggu pagi. Bayu dandan rapi dan fancy tak lupa tangannya menyemprotkan parfum di hem biru kotak – kotak.
 “Ganteng banget anak mama mau kemana?”
“Mau kerumah Prisca Ma”
“Hati – hati ya sayang”
“Oh ya Ma, mint doanya ya”
“Do’a untuk apa?”
“Aku mau nembak Prisca Ma, semoga nanti diterima ya Ma”
“Pasti diterima donk, masak ada yang berani nolak anak mama yang cakep ini”
Mama Bayu kenal dekat dengan Prisca, karena berulang kali Prisca dan teman – temannya belajar bareng di rumah Bayu. Tangan Bayu menyetir mobil BMW melaju kencang ke kediaman gadis pujaan hatinya. Sampi gerbang Pak Parjo membukakan pintu gerbang. Bayu memencet bel, bi Inem membukakan pintu. Bayu menanti Prisca di ruang tamu.
Prisca seusai mandi di kamar sedang mengeringkan rambut panjangnya dengan hair dryer.  Bi Inem mengetuk pintu dan memberithu Prisca bahwa ada tamu.
“Siapa Bi?”
“Temennya Non cowok saya lupa namanya”
“Ohh.. suruh nungguin bentar ya”
 Siapa ya??? Andre apa Bayu? Tumben pagi – pagi sudah kesini.
Kaki Prisca menuruni tangga menuju ruang tamu menemui tamunya.
“Hay, sorry ya nunggu lama” Sapa Prisca
Bayu menoleh kea rah sumber suara “ Gak papa kok, aku juga baru aja”
Prisca duduk di dekat Bayu “ Tumben Bay, pagi – pagi kesini, dah ganteng wangi lagi lagi, ada perlu apa Bay?”
“Ehmmm gak ada apa – apa sihhh, Cuma maen aja”
“Oh gitu, aku buatin minum dulu ya? Mau minum ap Bay?”
“Apa aja dehh boleh” Bayu menjawab sembari tersenyum
Aduh. Kenapa aku jadi nervous gini ya. Pokoknya aku harus bilang sekarang
Beberapa menit kemudian Prisca datang dengan membawa dua gelag minuman jus Apel. Mama dan Papa Prisca berpamitan pada mereka berdua karena mau menghadiri undangan.
“Prisca…” meraih tangan Prisca
Prisca kaget “ Napa Bay?”menatap Bayu
“Pris, aku sayang banget sama kamu, maukah kamu menjadi pacarku?” Bayu menatap Prisca penuh harap.
Bibir Prisca terkunci tak kuasa mengeluarkan sepatah katapun
“Aku gak tau Pris sejak kapan perasaan ini hadir, yang jelas aku merasa bahagia bila bersama kamu, kamu adalah seseorang yang tepat untuk hidup ku”
“Bayu…” mata Prisca berkaca – kaca
“Aku mohon Pris, jangan buat aku patah hati, aku janji gak bakal menyakiti hatimu, aku akan selalu menjaga kamu dan membuat kamu bahagia”
Prisca melepas tangan Bayu “ Maafkan aku Bay, aku gak bisa nerima cinta kamu “ berdiri dari tempat duduknya dengan air mata yang mengalir berlari menuju tangga.
“Prisca….”
Prisca kenapa kamu menangis? Apa ada yang salah dari perkataanku. Apa dia gak suka sama aku. Tapi kenapa Prisca menangis
Bayu meninggalkan rumah Priscadengan wajah melas dan kecewa. Bayu menuju kerumah Septi dan mencurahkan segenap rasa yang mengganjal di hatinya. Septi menceritakan masa lalu Prisca dengan Radit yang membuat Prisca trauma dengan cowok sampai sekarang. Hati Prisca masih belum bisa di masuki oleh nama cowok manapun. Rasa perih yang dia rasakan terlalu membekas. Prisca tidak mau terulang kedua kali.
“Jadi Prisca trauma dengan cinta pertamanya dulu sehingga dia tidak bisa menerima cowok lagi, termasuk aku yang sangat mencintai dia”
“Ya, kira – kira begitu Bay, Prisca menjadi benci dengan cowok kalau menyatakan cintanya semenjak dia putus sama Radit”
“Tapi Sep, aku itu tulus sayang sama Prisca, aku bukan Radit, aku sangat mencintai Prisca, aku ingin selalu menjaga Prisca tidak akan kusakiti dia”
“Aku mengerti Bay perasaan kamu, tapi Prisca gak mudah di luluhkan hatinya”
“Aku minta bantuan kamu Sep, untuk meyakinkan Prisca biar mau nerima cinta aku, aku janji Sep tidak akan menyakiti Prisca, kamu percaya sama aku kan Sep?. Aku mohon Septi hanya kamu yang bisa membantu aku”
“Ya aku akan berusaha untuk meyakinkan Prisca, semoga dia bisa membuka pintu hatinya buat kamu. Tapi inget kamu harus janji”
“Janji apa?”
“Kamu gak boleh menyakiti hati Prisca dan selalu sayang sama dia, awas aja kalu sampai menyakiti dia”
“Sweer deh Sep, berani sumpah aku. Aku akan menyayangi Prisca karena aku yakin Prisca adalah gadis yang aku cari selama ini”
                                    ***
Prisca menguras air matanya, memory otaknya mengingat masa lalunya yang kelam kisah cintanya dengan Radit yang berakhir dengan pahit. Sejujurnya di dalam hati Prisca menaruh rasa yang sama layaknya Bayu, namun setiap teringat dengan luka yang sampai kini belum sembuh total, Prisca enggan untuk memulai kisah cinta baru. Prisca bahagia dengan Bayu, namun semenjak Bayu mengungkan perasaannya kepada Prisca tentang keinginannya untuk menjadi pacarnya, Prisca menjadi benci dengan Bayu. Dalam benak Prisca Bayu akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Radit.
Bayu, kenapa kamu ngomong gitu sama aku, maaf kan aku gak bisa menerima cinta kamu, luka di hati ini belum sembuh dan aku benci pcaran aku benci cinta. Aku gak mau jatuh untuk yang kedua kalinya. Aku harap kamu ngerti Bay, semoga kamu bisa mendapatkn cewek lain yang lebih tepat.
Prisca berdiri di dekat cendela kamar tidurnya, matanya memandang bulan yang tampak separuh, air matanya masih mengalir.
                        ***
Sikap Prisca terhadap Bayu berubah 180 derajat. Prisca menjauh dari Bayu dan benci sama Bayu. Septi selalu meyakinkan Prisca bahwa Bayu cowok yang tepat untuk  Prisca tidak seperti Radit. Namun sia – sia Prisca hatinya masih terkunci rapat.
“Pris, Bayu itu cowok yang baik, dia tulus sayang sama kamu, cobalah Pris membuka pintu hati kamu untuk cowok, sudah saatnya kamu itu membuka mata kamu dan melupakan masa lalu kamu”
“Tapi Sep, luka di hatiku terlalu dalam, aku trauma dengan kisah cintaku yang dahulu, meski sebenarnya aku juga gak tega bersikap seperti ini sama Bayu”
“Justru itu Pris, kamu harus menerima cinta baru untuk menyembuhkan luka lama kamu, buka mata kamu, buka hati, aku yakin Pris kalau Bayu adalah orang yang bisa menyembuhkan luka hati kamu”
“Aku butuh waktu sep, untuk menerima seseorang lagi dalam hatiku”
Septi menyampaikan hasil percakapannya dengan Prisca kepada Bayu. Bayu tampak sedih, karena Prisca belum percaya dengan cintanya.
“Sabar ya Bay, aku yakin Prisca sebenarnya juga suka sama kamu, aku akan terus meyakinkan dia kalau kamu adalah cowok yang tepat untuk dia”
“Makasih ya Sep, aku akan tetap bertahan dan menunggu sampai pintu hati Prisca terbuka untuk aku”
                                    ***
Dari demi hari terus silih berganti, perasaan Bayu tak sedikitpun berubah. Prisca masih tetap bersikap dingin dengan Bayu. Septi senantiasa merongrong Prisca dan meyakinkan bahwa Bayu adalah cowok yang baik dan tepat. Lambat laun hati Prisca mulai membuka dan hati Prisca luluh dengn sikap Bayu yang selalu baik kepada dirinya meski Prisca telah mengacuhkannya. Prisca memikirkan setiap kalimat yang diucapakan oleh Septi untuk meyakinkan Prisca membuka pintu hatinya. Prisca teringat kata – kata Bayu seminggu yang lalu saat sepulang sekolah dan dia menarik tangannya.
“Prisca kalau memang kamu gak suka sama aku okelah, tapi aku mohon sikap kamu jangn kayk gini sama aku. Aku maunya kita temenan seperti dulu, aku gak nyaman Pris dengan situasi seperti ini”
“Bodo ah, lepasin tangan aku” Prisca meninggalkan Bayu. Septi mengikuti Prisca.
“Sabar ya Bay” Septi berkata lirih
Prisca tersenyum – senyum manja. Prisca menyampaikan hasil renungannya kepada Septi melalui ponsel. Prisca memutuskan untuk membuk pintu hatinya untuk Bayu.
“Jadi kamu mau jadi pacarnya Bayu?” Septi berkata sedikit terkejut
“Iya Sep, setelah aku pikir – piker kenapa aku harus menolak Bayu, sudah saatnya aku melupakan masa laluku dan membuka cerita baru”
“Nah gitu donk baru namanya Prisca, kapan kamu ngomong sama Bayu?”
“Besok sepulang sekolah aku mau ngomong langsung sama dia”
“Oke bos, aku dukung 100%. Bayu pasti seneng banget denger nya”
“Tapi inget ya jangan bilang ke dia, ini buat surpize”
Bayu termenung di balkon, membayangkan Prisca dan kisah indahnya saat mereka masih akrab, meratapi nasib cintanya yang bertepuk sebelah tangan. Bayu memandang bulan separuh di langit dan hatinya menangis.
Mengapa Pris, hati kamu belum bisa luluh juga, aku itu sayang sama kamu tulus. Aku bener – bener sayang sama kamu Pris, sampai kapan aku kuat bertahan dengan perasaan ini. Prisca kalau memang kamu gak mau nerima cinta aku gk papalah aku bisa terima, tapi aku mohon jangan bersikap dingin seperti ini, aku gak sanggup. Aku pengen kita seperti dulu bercanda tertawa bersama.  Bulan sampaikan pada Prisca aku akan mencintainya sampai penghabisan nafasku.
                                    ***
Rambut panjang Prisca dikepang dua. Prisca tampak ceria pagi ini, dengan semangat yang tinggi Prisca  melangkahkan kaki ke sekolah. Hatinya berbunga – bunga. Namun harapan ini pupus setelah diketahui ternyata Bayu hari ini tidak masuk sekolah.
“Sep, aku mau kerumahnya dia, aku mau jenguk dia, hatiku gak tenang ”
“Okelah, ntar sepulang sekolah kita ke rumahnya Bayu”
Sore. Prisca dan Septi samapai di kediaman Bayu. Namun betapa shock Prisca ternyata Bayu di rawat di Rumah Sakit. Setelah mendapatkan alamat rumah sakit dan nomor kamar Bayu dari pembantunya, Prisca langsung mengegas mobilnya menuju Rumah Sakit.
Sampai di Rumah Sakit. Prisca dan Sepi menuju tempat opname Bayu. Mereka menetuk pintu, mama dan kakak perempuan Bayu mempersilahakan masuk. Terlihat Bayu terkulai lemas tangannya di infuse.
“Bayu…” Prisca langsung memeluk Bayu.
“Kenapa kamu sakit? Aku sedih kalau gak ada kamu,  Bayu..” melepas pelukan
“Prisca….” Bayu berucap lirih sembari tersenyum.
“Bayu.. maafin aku, aku terlalu egois, aku gak pernah membuka hatiku buat kamu, tanpa aku sadari ternyata aku juga sayang sama kamu Bay”
Bayu tersenyum manja, tiba – tiba hidungnya mengeuarkan  darah .
“Bayu, hidung kamu”  Prisca mengambil sapu tangannya dan mengelap darahnya.
Mama, papa dan kakak Bayu panic dan memanggil dokter.
“Aku gak papa kok Pris” Bayu menenangkan Prisca yang matanya mulai berkaca – kaca.
Prisca memeluk Bayu dengan erat dengan air mata terus mengalir.
“Prisca jangan menangis, aku mau melhat kamu tersenyum di saat terakhirku ini”
“Ngomong apa sih kamu Bay, kamu jangan leby gitu, kamu past sembuh kok, kita akan kayak dulu lagi”
Dokter memasuki ruangan  dan memohon semua ornag yang ada di ruangan untuk meninggalkan ruangan.
“Prisca aku menunggu kamu di surga” air mata Bayu mengalir dari matanya yang bening.
Semua yang ada di luar ruangan harap – harap cemas sembari berdo’a.
Dokter keluar dari ruangan, dan menyamaikan bahwa kondisi Bayu normal hanya saja tidak boleh banyak bicra karena tenggorokannya masih radang dan perlu banyak istirahat serta tidak boleh berfikir yang terlalu berat.
Mama Bayu, kak Putri, Prisca dan Septi memasuki ruang opname sedng Papa Bayu meninggalkan Rumah Sakit ada urusan penting di kantor yang harus segera di selesaikan.
Mama Bayu langsung memeluk Bayu.
“Bayu gak papa kok Ma, Mama jangan khawatir”
Mama bayu tak kuasa menitikkan air mata.
“Papa mana Ma?”
“Papa ada keperluan sebentar di kantor, nanti segera kesini lagi” jawab Mama Bayu
“Ma, aku boleh ngomong sebentar sama Prisca”
Mama Bayu mengangguk dan tersenyum kepada Prisca.
Bayu menggenggam tangan Prisca.“Pris,aku tulus mencintai kamu, aku sayang sama kamu dari lubuk hatiku yang paling dalam, rasa cintaku gak akan berakhir meski nafasku telah berakhir, cintaku tak akan terhenti meski jantungku telah berhenti berdetak, cintaku tak akan habis meski usiaku telah habis, cintaku tak akan hancur meski ragaku telah hancur”
Prisca langsung memelik Bayu dan tak sanggup berkata apa – apa. Bayu melepas pelukan Prisca. “ Kamu jangan menangis ya sayang”
“Mama, kak Putri , Bayu minta maaf ya bila Bayu banyak salah, samapaikan maafku pada Papa juga, aku sayang kalian semua” Hidung Bayu mengeluarkan darah lagi. Kak Putri langsung memanggil dokter.
Dokter Irwan memasuki ruang opname Bayu, dan memberikan pelayanan pada Bayu.
Semua orang menunggu di luar, Mama Bayu menangis tersedu – sedu. Dokter Irwan keluar ruangan dan member tahu bahwa Bayu sudah tidak bisa di selamatkan lagi. Prisca langsung lemas tak berdaya, Mama Bayu pingsan, kak Putri juga ,enangis, suster membawa Mama Bayu untuk di beri pertolongan.
Baru saja Prisca terbang bersama indahnya perasaanya, namun semuanya harus terbang secepat itu pula. Bayu meninggalkan Prisca untuk selamanya. Penyakit sirosis yang di derita Bayu sejak dua tahun yang lalu memisahakan cinta Prisca dan Bayu.



Dibuat pada tanggal Sabtu 19 September 2009